Buku La Tahzan… (Part 1)

La Tahzan… Jangan Bersedih!

Sering banget lihat buku ini di toko-toko buku yang saya datangi. Cover-nya kuning, hardcover dan bukunya cukup tebal. Harganya saya kurang tahu. Awalnya, saya tidak tertarik untuk membelinya mungkin karena tidak berniat untuk membacanya. Apalagi bukunya lumayan tebal. Beda sekali dengan buku Harry Potter yang tebalnya beratus-ratus halaman dan ada beberapa jilid buku.

Perkenalan saya pada buku dimulai dari papa yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk senang membaca. Untuk membuat saya menyukai membacanya papa tidak membelikan buku cerita yang bertema ‘berat’. Beliau biasa membelikan saya buku-buku cerita bergambar dengan tujuan agar saya suka membaca. Setiap tahun pada acara pameran buku yang diadakan di JCC biasanya papa tidak pernah absen mengajak kami untuk berkunjung kesana. Mulai dari buku komik sampai buku cerita apapun pasti dibelikan. Selain banyak pilihannya, biasanya pada pameran buku seperti itu banyak buku murah. Buku produksi lama yang tidak laku akan dikeluarkan kembali dan dijual dengan harga sangat murah. Saya ingat sekali membeli 1 set komik (tidak lengkap) yang dijual per-satu buku dengan harga hanya 3.500 rupiah. Saat itu saya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) mana tahu buku baru, buku bekas atau buku lama. Yang penting adalah “buku”.

Kecintaan saya pada buku ternyata tetap ada sampai saya menginjak remaja, tapi sayangnya saya hanya menyukai cerita anak-anak tidak berkembang sesuai dengan umur. Sesekali saya baca cerpen dan novel tetapi tidak menghilangkan minat saya pada buku cerita bergambar. Menurut saya buku cerita bergambar itu sungguh menyenangkan dan tidak membosankan serta membuat imajinasi tumbuh dengan cepat. Hingga pada saat saya duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) papa pulang dari kantor dan membawa buku baru dengan judul, Harry Potter.

Bukunya cukup tebal menurut saya saat itu.

“Itu buku bagus,” ujar papa saat memberikan buku itu.

“Bacanya gantian jangan berebutan,” pesan papa. Bukunya hanya satu dan anaknya ada dua jadinya harus bergantian.

Ketika pertama kali saya memegang buku itu, saya membaca sinopsis buku pada bagian belakangnya, tentang penyihir. Cukup menarik, bathin saya. Tetapi begitu membuka halamannya saya tak menemukan gambar satupun, tulisannya kecil-kecil (sepertinya ditulis dengan huruf times new roman ukuran 10-12), spasinya pun seperinya 0. Itu adalah penilaian sayaa saat melihat buku Harry Potter pertama yang berjudul, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone.

Itulah buku tebal pertama tanpa gambar yang saya baca, yang lebih dikenal dengan nama novel. Saya membacanya saat sebelum tidur dan jujur aja, agak sedikit berat bahasanya bagi saya yang sebelumnya tidak pernah membaca novel remaja. Butuh beberapa kali baca sebelum akhirnya bisa dipahami alur ceritanya. Saya ingat ledekan kakak saya saat saya mulai membaca novel itu, ” Emang ngerti.”

Saya menjawab, “Ya ngertilah,” karena ngga mau diledekin lagi kalo jawabnya ngga ngerti. hehehe…

Itulah pengenalan saya kepada buku tebal pertama kali, setalah itu saya jatuh cinta kepada buku Harry Potter, saya punya semua jilidnya dan hampir semuanya sudah lebih dari dua kali saya baca. Sampai saat ini saya sudah tidak merasa berat lagi untuk membaca beberapa buku tebal.

Kembali kepada buku La Tahzan…

Saya sendiri sampai saat ini belum pernah baca buku itu. Tapi sih sepertinya buku itu tentang bagaimana menjalani kehidupan yang baik dan terus termotivasi dengan kata-kata “Innallaha ma ana”, Sesungguhnya Allah bersama kita.

Lama saya ngga aktif di akun twitter dan kemarin saya iseng untuk kembali aktif di akun twitter. Saya mem-follow beberapa akun yang cuitannya tentang nasehat dan buku. Beberapa hari kemarin saya melihat twit dari @surgabuku yang menjual 1 paket buku wanita (isinya Fikih Wanita dan La Tahzan) seharga 120.000 rupiah. Tapi buku La Tahzan yang ini beda versi dengan yang saya ceritakan diatas. Melihat pengarangnya bernama sama, Dr. Aidh Abdullah Al Qarni maka saya menjadi tertarik untuk membelinya. Tanpa pikir panjang, saya pesan buku paket wanita 1 melalui pesan singkat atau sms. Saya melakukan pesanan pada malam hari tanggal 9 Januari dan mendapatkan balasan pada tanggal 10 Januari dan diminta untuk segera melakukan pembayaran sebelum pukul 2 siang agar buku dapat dikirim pada hari yang sama. Kemarin siang, buku itu sampai. Dengan perasaan senang segera saya buka bukunya dan saya melihat-lihat (tidak langsung membaca karena saat itu anak-anak saya sedang bermain). Bukunya tidak softcover dan kertasnya pun tidak kertas putih seperti buku La Tahzan yang bersampulkan kuning. Kertasnya seperti kertas biasa yang memang lebih murah dari kertas putih, seperti warna kertas untuk koran tetapi lebih halus dari kertas koran.

wp-1484197278448.jpeg

Sampai saat saya menulis ini, saya baru membaca sampai pada kristal ketiga, belum ada setengahnya. Tetapi baru sedikit saja membaca dengan pengulangan kata-kata “Innallah ma ana” itu membuat hati saya yakin dan menjadikan saya semakin mantap untuk terus melangkah maju. Pada apapun kondisi hati saat membacanya. Semoga buku ini  memang benar-benar membuat saya menjadi wanita paling bahagia di dunia. Wallahu a’lam..

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s