Think Positive…

Aku mendengarkan… Ketika seorang teman bercerita…

“Mengapa, aku melihat hidup mereka begitu bahagia? Mereka tampak sangat akur sekali. Mereka sepertinya sangat damai dengan kehidupan mereka. Mereka begitu sangat bersahaja. Lihat istrinya, sepertinya mampu mencintai suaminya dengan sangat baik. Mereka sepertinya benar-benar sangat serasi. Mereka menjaga ibadah mereka dengan baik dan sepertinya tak pernah ada perselisihan diantara keduanya?”

“Aku iri sekali melihat keserasian rumah tangga mereka… Andai saja aku bisa menjadi istri yang baik.. Andai aku bisa membuat segalanya berubah menjadi seperti awal.. Andai saja semua perubahan-perubahan kecilku dihargai, kok rasanya seperti semuanya sia-sia. Aku berusaha berubah.. Aku berusaha selalu menerima apapun kekuangan suamiku aku berusaha untuk berubah menjadi lebih baik tetapi ada saja saat-saat dimana ia kembali membicarakan keburukanku, terutama disaat kami bertengkar,” ia mengusap air matanya yang jatuh perlahan.

“Apa kamu yakin?” tanyaku sambil memikirkan apa yang sebaiknya aku ucapkan.

“Apa kamu yakin, apa yang mereka tunjukkan di dunia maya itu sebenar-benarnya kehidupan mereka? Apa kamu yakin mereka tak pernah sekalipun atau sedikitpun bertengkar dalam mengarungi rumah tangga mereka? Apa kamu tahu bagaimana mereka mengatasi masa-masa sulit misal dalam pertengkaran atau yang lainnya?”

“Apa yang kamu irikan ketika suamimu mampu memberikanmu segalanya? Apa yang kamu irikan dengan orang lain ketika suamimu memberimu sebuah kunci rumah untuk kau tempati, rumah baru dan milik sendiri. Apa yang patut kau irikan kepada orang lain disaat suamimu sudah berusaha keras memenuhi kebutuhan hidupmu dan memanjakanmu dengan kendaraan pribadi yang mampu melindungi dari panasnya terik matahari atau dari derasnya guyuran hujan?”

“Apa yang kamu irikan dari keserasian foto-foto orang yang mereka unggah ketika kamu mampu menghabiskan waktu bersama suamimu lebih lama daripada orang lain. Orang-orang itu menghabiskan waktu dengan suami mereka hanya disaat-saat tertentu. Mereka harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. Apa yang kamu risaukan ketika suamimu selalu ada disetiap deringan telpon darimu berbunyi di hpnya? Apalagi yang perlu kau risaukan jika hanya karena meilhat foto-foto yang mereka unggah membuatmu menjadi istri yang gagal?” Aku mencoba membuatnya berpikir lebih jernih.

“Tak ada kata terlambat untuk bisa menjadikan diri kita lebih baik lagi,” Aku mengelus pundaknya.

“Tapi entah kenapa sulit sekali rasanya berubah untuk menjadi sangat sempurna seperti orang-orang lain,” ia mendesah.

“Setiap orang punya perilaku dan kepribadian masing-masing. Mungkin dibalik ketidak-sempunaan-mu ada kemuliaan yang tidak engkau ketahui, yang hanya bisa dilihat dari sisi orang lain.”

“Kita harus punya pemikiran positif untuk setiap apa yang kita hadapi dan kita jalani, karena tidak ada satupun yang sempurna dalam menjalani kehidupannya. Sesekali setiap orang pasti pernah merasakan jatuh, tinggal bagaimana mereka menyikapinya saja,” Aku meyakininya dan memberikan senyuman semangat.

Itu adalah hari pertama dan terakhir aku melihatnya. Setelah pertemuan itu ia kembali menghilang sama seperti sebelum ia bercerita ia tak pernah datang bahkan hanya untuk sekedar menyapa.

Setiap orang mempunyai jalan dan alur cerita kehidupan yang berbeda. Apa yang kita lihat tidak selalu sama seperti apa yang kita bayangkan? Lalu, kenapa kita harus iri kepada kehidupan orang lain jika kita sudah mensyukuri kehidupan kita sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s