Sebuah Cerita… (Part 2)

Hari berikutnya, ia mengabariku akan pergi ke salah satu rumah sakit di kawasan Bintaro. Dia mengatakan ingin melakukan check up dan menawariku untuk ikut. Aku mengiyakan, tetapi teringat kejadian kemarin soal komentarnya tentang pakaianku. Kali ini aku pergi menggunakan gamis batik berwarna merah dengan kerudung senada.

“Rumah ze dimana? Dari Margonda jauh?” tanyanya.

“Lumayan sih, ketemu di Margonda aja,” saranku.

“Oke, sebelah mana?”

“Didepan Rumah Sakit Mitra Keluarga aja, disitu bisa parkir sebentar untuk nunggu.”

Aku menuju jalan Margonda menggunakan angkutan umum atau yang lebih dikenal dengan sebutan angkot. Waktu itu belum ada gojek dan sejenisnya, kalaupun sudah ada pun armadanya tidak sebanyak sekarang ini.

“Mas udah sampe ya,” ia mengabariku.

“Oke,” jawabku.

Aku menyebrang jalan untuk bisa sampai di depan rumah sakit Mitra Keluarga. Aku menghubunginya untuk mencari tahu kendaraan yang ia gunakan. Dia balik bertanya, baju apa yang aku gunakan. Aku menjawab menggunakan gamis batik. Tak lama, sebuah mobil Kijang Innova berhenti tepat didepanku.

Aku masuk ke dalam mobil dan memasang seat belt.

“Check upnya harus di RS Bintaro kah?” tanyaku ingin tahu.

“Ya, soalnya sebelumnya check up disitu, kemarin cari-cari dokter yang bagus di rujuknya kesana,” jelasnya.

“Emang sakit apaan mas?”

“Enam bulan yang lalu pas main futsal, mas jatuh sekarang bekas jatuhnya itu suka agak sakit.” Aku menganggukkan tanda mengerti

“Ze tahu kah rumah sakitnya?” tanyanya

“Ngga, belum pernah ke daerah situ,” jawabku.

Banyak obrolan saat itu karena aku sampai tak memperhatikan jalan yang kami lewati. Ia menceritak seorang perempuan yang dicalonkan untuk menjadi istrinya. Satu alumni dengan kami. Bapak perempuan itu senang sekali ketika anaknya dikabarkan akan dijodohkan dengannya. Bahkan, ia juga bercerita, bapak tersebut meminta izin untuk tetap menguliahkan anaknya jika menikah dengannya nanti. Cerita itu tiba-tiba berhenti begitu saja karena ternyata kami sudah sampai di rumah sakit yang kami tuju. Dan karena itu juga aku tak pernah tahu kenapa perempuan itu tidak jadi menikah dengannya.

Rumah sakit itu tampaknya baru beroperasi kalau dilihat dari bangunannya yangb aru dan kondisi rumah sakit yang masih agak sepi. Rumah sakit itu tidak terlalu besar tetapi terlihat cukup nyaman. Aku tak ingat dokter apa yang kami datangi. Yang pasti saat kami tiba disana, aku menunggunya di luar ruang kontrol. Tak sampai 1 jam ia keluar.

“Cehck upnya gimana mas?” tanyaku saat ia menghampiri.

“Bagus sih, cuma kontrol aja,” katanya.

“Pulang yuk,” ajaknya.

Ketika perjalanan pulang, kami mampir di sebuah SPBU. Sembari menunggu bensinnya terisi, ia keluar dari mobil dan mengecek bemper mobil bagian depan.

“Kemarin mobilnya mas baretin,” katanya sambil tersenyum kecut.

“Kenapa emangnya?”

“Ya biasa, nyenggol dikit si, tapi ngga gitu keliatan. Cuma ngga enak aja,” ujarnya.

Ketika kami kembali ke jalan raya, aku hendak mengecilkan volume radio, “Putihan mas ya ze,” katanya tersenyum jail. Karena saat itu tanganku menyentuh lcd radio. Aku tak acuhkan ucapannya.

“Ze, tau ngga, Nabi itu ngga suka warna merah loh,” katanya lagi.

“Masa? ngga tau tuh..”

Sebenarya ada sedikit rasa sebal ketika mendengar ia mengucapkan itu. Kemarin ketika pergi menggunakan legging dan baju pendek dia berakata bahwa bajuku kurang panjang dan sekarang pakai gamis warna mencolok diprotes juga. Jadinya aku hanya mengabaikan ucapannya tadi.

“Mas ngga bisa anter ke tempat tadi ya,” katanya.

“Ada acara mas?” tanyaku ingin tahu.

“Iya, jam dua nanti ada acara ketemu orang.”

Aku meilhat jam dan waktu menunjukkan pukul setengah satu siang.

“Oh yaudah, ngga apa-apa mas, aku turun dibelokan depan aja,” seraya menunjuk asal jalanan.

“Belokan maba?”

“Belokan setelah keluar tol, nanti kan mas belok kiri arah ke pasar minggu, nanti aku turun nyebrang ke arah pulang,” jelasku.

Beberapa hari setelah itu ia kembali mengirimiku pesan dan mengabarkan akan segera kembali ke Surabaya. Sebelum kembali ia menyempatkan untuk mengajakku jalan. Kali ini kami bertemu tak jauh hanya disekitar Depok saja. Saat kami bertemu ia mengajakku ke perpustakaan UI. Ia penasaran dengan perpustakaan kampus besar itu. Berhubung aku tidak kuliah disana, aku mengiyakan karena ingin tahu juga bagaimana perpustakaan kampus UI.

Kami menuju kampus UI yang pintu masuknya terletak di ujung jalan Margonda. Kami mencari parkiran yang terdekat dengan gedung perpustakaan. Sepi. Sepertinya sedang libur semester. Kami berjalan menuju perpustakaan dan membayar sejumlah uang untuk bisa masuk karena kami pengunjung umum yang tak memiliki tanda pengenal atau kartu mahasiswa UI. Kami hanya berkeliling sampai ke lantai paling atas kemudian turun lagi. Kami mengambil jalan memutar untuk sampai ke parkiran mobil. Di pinggi sepanjang jalan setapak itu terdapat bangku-bangku taman berjajar dengan jarak teratur. Di salah satu bangkunya terisi oleh muda-mudi yang sedang duduk berdua dan tampaknya asyik mengobrol.

“Permisi mas, permisi mba,” tiba-tiba ia berucap kepada kedua muda-mudi itu sambil setengah membungkukkan badan. Keduanya hanya tersenyum menganggukkan.

Aku menepuk pundaknya sambil menahan tawa, “Ngapain sih mas?” tanyaku geli.

“Lah kan kita lewat, mereka lagi duduk, ya bilang aja permisi,” katanya sambil tertawa.

“Iseng banget gangguin orang,” kataku lagi.

Ketika sampai di parkiran ia tidak langsung masuk ke dalam mobil. Duduk diatas hamparan rumput sambil memperhatikan petugas kebersihan membersihkan daun-daun yang berguguran. Cuaca siang itu cukup terik tetapi tidak terasa panas karena terlindungi oleh daun-daun rindang dari pohon-pohon yang berjajar rapi di parkiran.

“Mas, kalo nanti ada yangnanya ngapain kita berdua disini, gimana?” tanyaku iseng.

“Ya bilang aja lagi nemenin calon,” jawabnya bangun dari duduknya dan menuju mobil.

Aku tersenyum menahan tawa, “Calon apaan?”

“Ya calon aja,” ujarnya tersenyum sambil menyalakan mesin mobil.

“Ze, mas anter sampe rumah ya?” tawarnya.

“Boleh, kalau ngga keberatan.”

“Jauh emangnya?”

“Ngga begitu sebenarnya kalau lancar.”

Tidak sampai 15 menit mobil berhenti tepat didepan rumahku.

“Makasih ya mas, aku ngga nawarin turun loh,” ujarku.

“Iya, ngga apa-apa, jangan cerita ya ke siapa-siapa soal ini,” pintanya.

Geli juga mendengar permintaannya. Rasanya seandainya aku bercerita sekalipun belum tentu ada yang percaya. Apalagi aku tak pernah berfoto bareng atau memfotonya saat itu. Tapi aku iyakan permintaannya.

“Hati-hati mas,” aku melambaikan tangan saat ia mulai keluar dari gang rumahku.

Setelah itu tidak ada kontak satu sama lain di antara kami, hanya sesekali bertukar kabar memberi tahu keadaan bapaknya yang saat itu sedang terserang stroke. Sampai akhirnya aku memberi tahu bahwa aku akan segera mengadakan acara lamaran. Dia mengucapkan selamat dan mendoakan agar semuanya berjalan lancar.

Setelah itupun kami tidak berkabar lagi, sampai pada suatu sore ia menyapaku lewat pesan singkat, menanyakan bagaimana acara lamaranku kemarin. Jarak antara lamaranku dan pesannya mungkin sekitar satu bulan.

“Gimana acaranya ze? Lancar?” tanyanya.

“Alhamdulillah mas, lancar. Insya Allah acaranya bulan Maret mas.”

“Mas sendiri kapan mau lamaran?” tanyaku balik.

“Insya Allah sebentar lagi. Gimana perasaannya abis lamaran? Senang ngga?”

“Hahaha.. Yaiyalah senang, mana ada orang mau nikah ngga senang,” jawabku.

“Oh ya, nanti mas mau tutup akun fb mas ya,” katanya.

“Loh, kenapa emangnya?” tanyaku bingung. Aku hanya sekedar berteman di fb tetapi kami tidak pernah memberi respon satu sama lain.

“Ngga apa-apa, cuma mas mau bikin fb baru temannya laki-laki semua kalau perempuannya saudara aja,” jelasnya.

“Kenapa gitu?” tanyaku lagi masih sedikit bingung.

“Mas ngga mau nanti kalau istri mas cemburu,” aku tak menjawab, hanya meng’oh’kan dalam hati.

“Nanti kamu berteman aja sama istri mas,” katanya lagi.

“Siap, emang siapa sih mas calonnya?” tanyaku jadi penasaran.

“Nanti juga kamu tahu.”

“Semoga lancar ya semua acaranya, doakan juga semoga rencana mas lancar.”

“Amiin.. Iya mas mudah-mudahan semuanya sesuai rencana,” kataku menutup pesan.

Dan itulah terakhir kami berkomunikasi.

Tak lama setelah itu, aku mendengar kabar pernikahannya dengan salah seorang adik kelasku. Aku tersenyum, ternyata dia menyimpan rahasianya sendiri.

Tahun kemarin ada acara reuni akbar disekolahku dulu. Aku menyapa istrinya, Fizha (Nama disetiap akun media sosialnya) karena yang kutahu ketika acara reuni akbar itu mereka pulang ke Indonesia. Mereka tinggal di Madinah setelah menikah. Setahuku juga, dulu, memang ia masih melanjutkan studi di Madinah, entah kalau saat ini masih melanjutkan studi atau tidak. Dengan sangat ramah, ia mengajakku bertandang ke rumah mertuanya, itu berarti rumah orang tuanya juga.

Aku sedikit berharap bertemu lagi dengannya, bukan karena aku suka atau yang lainnya. Aku sampai saat ini hanya menganggap dia seorang teman senior. Aku ingin melihatnya karena sudah sangat lama sekali tidak bertemu mungkin sekitar 4-5 tahun yang lalu. Aku hanya penasaran, bagaimana ekspresinya kalau seandainya kita bertemu satu sama lain dengan pasangan masing-masing. Tetapi karena suasana yang tidak memungkinkan akhirnya aku berpamitan untuk pulang segera. (FIN).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s