Sebuah Cerita…

Mengenalmu cukup menjadi cerita…

Aku bertemu seorang teman. Saat itu ia baru saja datang ke Jakarta dan tiba-tiba mengontakku setelah sebelumnya memang kami sempat berada dalam sebuah obrolan. Ia menetap sementara di daerah Kalibata, di rumah salah seorang kerabat. Aku sedikit lupa awal bertemu dengannya, tetapi kami cukup sering bertemu selama ia berada di Jakarta selama beberapa hari. Ketika itu, ia menyampaikan bahwa ingin bertemu denganku di salah satu mall yang tak jauh dari tempat singgahnya. Lalu kutunjukkan Mall Kalibata CIty, karena letaknya tak begitu jauh dari tempatnya yang hanya berseberangan dengan TMP Kalibata. Sedangkan bagiku, cukup mudah untuk sampai ke Kalibata City karena cukup berjalan kaki dari Stasiun Kalibata.

Saat itu, kami janji bertemu sekitar pagi menjelang siang. Aku seperti biasanya, menggunakan celana jeans dan baju dengan panjang standar tapi menutupi pantat dengan kerudung yang tidak terlalu pendek. Saat itu, aku merasa sedikit canggung sebenarnya dan tidak banyak yang kami obrolkan. Dia hanya mengajakku makan sambil berkeliling. Jujur saja, aku tidak tahu kalau ternyata Mall Kalibata City itu cukup kecil. Karena akupun tak pernah kesana sebelumnya.

“Kamu pulang naik apa?” tanyanya saat kami keluar dari pelataran Mall. Saat itu sudah pukul 1 siang.

“Naik kereta lagi, deket kok, gampang.”

“Emang ngga penuh?” tanyanya ingin tahu.

“Ngga sih kalo jam segini,” aku melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tanganku.

“Hati-hati ya,” pesannya. Aku hanya tersenyum. Ia mengantarkanku sampai ke pintu stasiun. Tak lama setelah aku masuk, kereta datang. Ia sepertinya menantikanku hingga masuk ke dalam kereta. Tak lama kereta bergerak maju dan aku masih melihat sosoknya masih berdiri didekat pintu kereta.

Kami tak banyak berbincang melalui SMS ataupun telpon. Tetapi yang kuingat, kami janji bertemu kembali. Kali itu ia mengajakku ke PenVil sebutan untuk Pejaten Village, salah satu mall yang terletak di kawasan Pejaten tak jauh dari terminal Pasar Minggu. Aku berkata padanya bahwa aku akan pergi menggunakan sepeda motor. Kami bertemu di sebuah halte tak jauh dari tempat singgahnya di Jakarta.

“Mau bawa(motornya) mas?” tanyaku padanya.

“Iyalah sini, mas bawa. Masa cewek yang bawa,” katanya mengambil helm yang kuberikan. Akupun turun dan menunggunya siap. Tak lama kami sampai di PenVil. Berbeda dengan Kalibara City, PenVil lebih besar dan sangat puas untuk berjalan berkeliling didalamnya.

“Mau nonton?” tawarnya.

“Emang ada yang seru?”

“Kayaknya Ice Age seru.” Akhirnya kami berjalan menuju sinema dan memesan tiket menonton. Dan lagi, itu terjadi di siang hari. Jujur saja, aku belum pernah nonton film Ice Age yang sebelumnya jadi aku tak bisa berkomentar apa film itu bagus atau tidak sebelum menontonnya. Di dalam bioskop kami hanya fokus pada filmnya. Aku sesekali melihatnya yang tampak seru menonton film itu. Aku sendiri sih, biasa aja karena menganggap hanya menjadi tour guide-nya selama ia berada di Jakarta.  Setelah selesai nonton, ia bertanya padaku apa masih ingin berkeliling, aku hanya menjawab, terserah.

Saat melewat sebuah toko pakaian yang cukup besar, tiba-tiba ia menyindir pakaianku.

“Ze, mau mas beliin baju ngga?” tanyanya.

“Kenapa emangnya mas?” tanyaku mendadak berhenti berjalan. Saat itu aku mengenakan legging hitam dan manset hitam ditutup dengan baju luaran selutut serta kerudung paris segi empat.

“Kurang panjang bajunya,” jawabnya sambil masuk ke toko pakaian yang ada disebelah kami. Aku hanya menanggapi santai. Wajar saja kalau ia mengomentari cara berpakaianku, secara dia tinggal dan besar di dalam lingkup pesantren dan belajar di Madinah. Mungkin dia tidak terlalu biasa melihat perempuan menggunakan pakaian ‘agak ngepres’. 😀 

Aku tahu itu hanya sindiran saja dan ia tak mungkin benar-benar membelikan sebuah baju. Tapi yang ada ia memilih dan membeli sendiri beberapa pakaian  untukknya. Ia bilang tak banyak baju yang ia bawa sekarang. Aku hanya menganggukkan kepala.

“Zahroh abis lahiran ya mas kemarin?” tanyaku padanya saat ia sedang memilih-milih pakaian. Ia singgah di salah satu kerabatnya yang juga teman satu angkatanku.

“Iya, baru seminggu kemarin, tapi dia udah kemana-mana bawa motor tuh ya.”

“Oh ya?.”

“Iya beda banget sama Lola, kayaknya kok waktu dia abis lahiran itu pernyembuhannya lama, udah lebih dari seminggu di rumah ngga ngapa-ngapain,” kisahnya. Lola, kakak iparnya yang juga teman satu angkatan denganku. Aku sendiri belum pernah merasakan melahirkan jadi cukup lama berpikir untuk mendapatkan jawabannya, “Mungkin tiap orang beda-beda mas.” Ia hanya menganggukkan kepala.

Tak lama setelah itu kami pulang. dia menghentikan motor di halte tempat dimana ia naik. Aku hanya tersenyum dan memutar balik….(to be continue)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s